Mengampuni itu Menyembuhkan

Mengapa saya tidak bahagia? Pertanyaan ini kerapkali muncul dalam aktivitas kita sehari hari baik dari dalam diri kita sendiri maupun dari diri orang – orang di sekitar kita. Suatu hari saya bertemu dengan seorang ibu di pintu depan Katedral yang minta didoakan supaya bisa hidup bahagia, sukses dan kuat dalam menjalani hidup, tapi cerita demi cerita, saya menangkap bahwa ternyata ibu ini tidak mencintai ibunya sendiri .Saat itu juga,  saya mengingat kutipan Sirakh 28:3 yang mengatakan “Bagaimana orang dapat memohon rahmat pada Tuhan jika Ia masih menyimpan amarah pada sesama”.

Sebenarnya kebahagiaan itu ada dalam diri kita sendiri dan ini merupakan rahmat yang cuma -cuma dari Tuhan, hanya saja untuk merasakan rahmat ini, kita diajak Tuhan untuk tidak menyimpan amarah yang berarti “Mengampuni” karena hanya dengan mengampunilah, kita juga diampuni oleh Tuhan. Akan tetapi, kita cenderung ingin mencapai kebahagiaan dengan cara tidak mau mengampuni. Sebenarnya tidak mengampuni dan mempertahankan kepahitan bukan berarti lepas dari penderitaan melainkan membuat kita lebih menderita lagi. Kebencian, amarah, dendam cenderung lebih melukai kita ketimbang orang orang yang kita benci. Seringkali kita mengingat pengalaman pahit kita, sementara orang yang melukai kita sudah melupakannya. Oleh karena itu dalam proses pengampunan, diperlukan niat yang kuat bukan perasaan. Seringkali kita tidak mengampuni karena perasaan kita bicara,“Saya belum bisa mengampuni karena saya masih mengingat pengalaman itu”, Saya tidak mau mengampuni kalau dia tidak berubah”, atau “saya tidak mau mengampuni karena kesalahannya terlalu berat”. Percayalah, ketika anda memiliki niat yang kuat untuk mengampuni, semua perasaan itu pasti berubah.

Memang mengampuni bukanlah hal yang mudah, tapi kita perlu sadar bahwa tak satu orang pun di dunia ini yang lahir dengan bakat mengampuni. Mengampuni itu merupakan proses yang terus menerus dan membutuhkan rahmat, ini adalah pekerjaan Tuhan atas diri kita, oleh karena itu orang yang katakan “Saya tidak bisa mengampuni” adalah orang yang tidak tahu apa itu pengampunan yang sesungguhnya atau orang yang kurang berserah pada karya Tuhan.

Kita jangan hanya percaya bahwa Allah itu pengampun tapi hendaklah kita juga bertindak mengampuni mereka yang bersalah pada kita. Dalam hal ini Yesus dalam sengsaranya menjadi teladan kita. Yesus mengampuni orang yang mengkhianati, menyakiti dan yang meninggalkanNya, karena pengampunan itu adalah konsekuensi cinta. Mencintai adalah bagian dari mengampuni. Kita tidak bisa katakan, “Saya mencintai Dia tapi saya tidak mau mengampuniNya”. Semakin banyak kita mencintai, semakin besar peluangnya kita disakiti, karena biasanya orang orang yang kita cintailah yang bisa membuat kita terluka. Yesus tidak berhenti mencintai ketika Dia dilukai, apakah kita akan berhenti mencintai ketika kita dilukai?

Pengampunan itu memang tidak mudah, butuh perjuangan tapi hendaklah kita wujudkan niat dalam hati kita bahwa luka luka kita adalah suatu kerinduan akan Tuhan, seperti perempuan Samaria yang mau air hidup dari Tuhan, mari kita datang dengan luka luka kita pada Tuhan, niscaya Tuhan akan membebaskan kita.

Oleh: Sr Henni Sidabungke, RSCJ

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *